BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar
Belakang
Dalam materi yang akan
kami jelaskan yang terdapat dalam makalah ini yaitu tentang Interaksi Manusia
dengan Lingkungan, Kegiatan atau aktivitas manusia berpengaruh terhadap
lingkungan sekitar. Dalam materi makalah ini akan dijelaskan Interaksi Manusia
dengan Lingkungan yang diantaranya mengenai Modifikasi Lingkungan, Pencemaran
Lingkungan, Budaya dan Pola Kesehatan Lingkungan.
Indikasi dan cara
identifikasi terhadap modifikasi lingkungan alam, baik melalui survei permukaan
terhadap gejala atau kenampakan yang sekarang masih dapat dikenali di permukaan
tanah , maupun melalui penginderaan jauh. Kedudukan manusia dalam lingkungan
hidup dan dinamika interaksi dengan lingkungan hidup merupakan hubungan sosial
yang dinamis.
Aktivitas manusia
tidak hanya tergantung dan dipengaruhi oleh lingkungan alam, namun juga dapat
mempengaruhi dan menyebabkan pengaruh pada alam, baik secara sengaja maupun
tidak sengaja.
Selain itu juga
manusiaadlah makhluk hidup yang dapat dilihat dari dua sisi, yaitu sebagai
makhluk bilogis dan makhluk sosial. Sebagai makhluk biologis, makhluk manusia
atau Homo Sapiens, sama seperti makhluk hidup lainnya yang mempunyai peran
masing-masing dalam menunjang system kehidupan.
Manusia sebagai
makhluk sosial, tidak dapat hidup secara individu. Mereka selalu berkeinginan
untuk tinggal bersama dengan individu-individu lainnya. Lingkungan hidup yang
dimaksud tersebut tidak bisa lepas dari kehidupan manusia, oleh karena itu yang
dimaksud dengan lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda,
daya,keadaan dan makhluk hidup termasuk didalamnya daya manusia dan perilakunya
yang mempengaruhikelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta
makhluk hidup lainnya.
Oleh karena itu,
aktivitas atau kegiatan manusia sangat berpengaruh terhadap lingkungan
sekitarnya, karena lingkungan merupakan tempat yang paling dekat dengan
manusia.
1.2.
Rumusan Masalah
Bertitik tolak dari
latar belakang Interaksi Manusia dengan Lingkungan yang terdiri dari modifikasi
lingkungan , pencemaran lingkungan budaya dan pola kesehatan lingkungan. Kami
mengidentifikasi masalah tersebuty sebagai berikut:
- Identifikasi Modifikasi Lingkungan
Alam ?
- Penyebab dan Akibat Pencemaran
Lingkungan ?
1.3 Tujuan
Penulisan
1. Tujuan
penulisan makalah ini secara formal ialah untuk memenuhi salah satu tugas
kelompok mata kuliah Pendidikan Lingkungan Sosial, budaya, dan Tekhnologi
(PLSBT)
2. Tujuan
yang lainnya yaitu untuk mengetahui sejauh mana interaksi manusia dan pengaruh
manusia dengan lingkungan sekitarnya.
1.4
Manfaat Penulisan
Adapun manfaat
penulisan yang dapat diambil dalam penulisan makalah ini adalah kita sebagai
calon guru dapat mengetahui sejauh mana pengaruh manusia dengan dengan
lingkungan hidup serta menambah wawasan kita dalam mata kuliah ini.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Interaksi
Interaksi adalah
suatu jenis tindakan yang terjadi ketika dua atau lebih objek mempengaruhi atau memiliki efek satu sama lain. Ide efek dua arah
ini penting dalam konsep interaksi, sebagai lawan dari hubungan satu arah
pada sebab akibat. Kombinasi dari
interaksi-interaksi sederhana dapat menuntun pada suatu fenomena baru yang
mengejutkan. Dalam berbagai bidang ilmu, interaksi memiliki makna yang
berbeda.
2.2 Interaksi Manusia dengan
Lingkungan
Lingkungan alam
(natural environment) adalah lingkungan yang terbentuk secara alamiah tanpa
campur tangan manusia. Lingkungan alam mencakup semua benda hidup dan tak hidup
yang terjadi secara alamiah di bumi. Lingkungan alam berbeda dengan lingkungan
buatan yang terdiri atas area dan komponen alam yang telah dipengaruhi manusia.
Lingkungan alam dapat berbentuk sungai, danau, laut, gunung, rawa, hutan dan
lain-lain.
Lingkungan alam
terdiri atas komponen abiotik dan biotik. Komponen abiotik adalah segala
sesuatu yang ada di lingkungan yang bukan makhluk hidup. Sebaliknya Lingkungan
biotik adalah segala benda hidup yang ada di lingkungan. Contoh lingkungan
abiotik adalah batuan, tanah, air, udara, suhu, hujan, dan energi matahari,
sedangkan contoh lingkungan biotik adalah berbagai jenis tumbuhan dan hewan. Dalam
lingkungan alam terjadi interaksi antara lingkungan abiotik dengan lingkungan
biotik atau sebaliknya. Bahkan, antar komponen lingkungan biotik dan antar
komponen lingkungan abiotik juga terjadi saling keterkaitan. Berikut
contoh-contoh interaksi tersebut : Contoh interaksi antara komponen
abiotik dengan biotik adalah tanah, suhu dan curah hujan yang memengaruhi jenis
tanaman yang tumbuh suatu daerah. Suhu yang tinggi dan curah hujan yang besar
serta tanah yang subur memungkinkan tumbuhnya beragam tumbuhan tropis. Tanaman tropis
tidak dapat tumbuh dengan baik di daerah gurun yang kering dan suhu yang tinggi
atau di daerah lintang sedang dengan empat musim.Lingkungan biotik juga dapat
memengaruhi lingkungan abiotik. Contohnya daerah yang banyak tumbuhannya akan
membuat suhu udara menjadi lebih sejuk. Antara komponen abiotik dengan
komponen abiotik lainnya juga dapat terjadi saling pengaruh. Contohnya, curah
hujan yang besar dapat menimbulkan pengikisan terhadap tanah yang juga lebih
besar. Suhu yang tinggi dapat menimbulkan penguapan yang tinggi pulaSaling
pengaruh juga terjadi antara komponen biotik dengan komponen biotik lainnya.
Contohnya adalah beragamnya jenis tumbuhan atau flora di suatu wiayah juga
diikuti oleh beragamnya jenis hewan atau fauna yang hidup di wilayah tersebut.
Karena itu, di daerah hutan hujan tropis seperti Indonesia selain sangat
beragam jenis floranya juga beragam jenis faunanya.
Pada awalnya manusia
memanfaatkan alam hanya sebatas untuk memenuhi kebutuhan dasarnya (makan dan
minum serta pakaian). Namun, saat ini manusia mengolah sumber daya yang ada di
alam untuk beragam kebutuhan atau sekedar memenuhi gaya hidupnya.
Akibatnya, sebagian lingkungan alam telah mengalami kerusakan seperti
pencemaran air dan udara.
Pada masa sekarang manusia cenderung melakukan upaya mengambil sumber daya alam dengan menggunakan bantuan teknologi. Namun demikian, pada hal tertentu sampai saat ini manusia juga beradaptasi dengan alam, misalnya manusia menyesuaikan waktu tanam dengan musim penghujan, waktu untuk berlayar menyesuaikan dengan keadaan cuaca, menghindari tinggal di daerah rawan bencana alam, dan lain-lain.
Pada masa sekarang manusia cenderung melakukan upaya mengambil sumber daya alam dengan menggunakan bantuan teknologi. Namun demikian, pada hal tertentu sampai saat ini manusia juga beradaptasi dengan alam, misalnya manusia menyesuaikan waktu tanam dengan musim penghujan, waktu untuk berlayar menyesuaikan dengan keadaan cuaca, menghindari tinggal di daerah rawan bencana alam, dan lain-lain.
Ilmu pengetahuan dan
teknologi telah membuat manusia lebih dominan dalam interaksinya dengan alam.
Manusia mampu membuka lahan pertanian dan perkebunan yang sangat luas. Gergaji
mesin mampu memotong pohon besar dalam waktu singkat, traktor mampu mengolah
lahan dengan cepat, sehingga lahan pertanian dan hasilnya bertambah dengan
cepat pula.
2.3 Hakikat Interaksi Manusia
dengan lingkungan
Semua manusia di muka bumi
ini hidup dalam lingkungan tertentu. Dalam skala luas, manusia hidup dalam
negara yang berbeda-beda, kota yang berbeda-beda, sampai pada lingkungan
terkecil seperti lingkungan rumah tangga yang pasti berbeda-beda pula.
Lingkungan merupakan
kombinasi antara kondisi fisik yang mencakup keadaan sumber daya alam seperti
tanah, air, mineral, energi surya, serta flora dan fauna baik yang tumbuh di
atas tanah maupun di dalam lautan, dengan kelembagaan yang meliputi ciptaan
manusia seperti keputusan bagaimana cara menggunakan lingkungan fisik tersebut.
Secara sederhana,
lingkungan merupakan ruang yang ditempati oleh makhluk hidup dan benda yang tak
hidup. Kehidupan manusia tentu saja tak dapat dipisahkan dari lingkungannya,
baik lingkungan alam maupun lingkungan sosial. Contohnya kita bernapas dari
udara dari lingkungan sekitar kita. Semua aktivitas manusia seperti makan,
minum, dan menjaga kesehatan semuanya memerlukan lingkungan.
Lingkungan adalah
segala sesuatu di sekitar manusia yang memengaruhi perkembangan kehidupan
manusia, baik secara langsung maupun tidak. Komponen lingkungan dapat dibedakan
menjadi :
(1) lingkungan
abiotik,
(2) lingkungan biotik,
(3) lingkungan sosial
dan budaya.
Lingkungan abiotik
adalah unsur lingkungan hidup yang terdiri atas benda-benda tidak hidup,
seperti tanah, air, pasir, udara, bebatuan dan lain-lain. Lingkungan biotik
adalah lingkungan hidup yang terdiri atas makhluk hidup, seperti manusia,
tumbuhan dan hewan. Lingkungan sosial adalah lingkungan yang dibuat oleh
manusia yang merupakan sistem nilai, gagasan, dan keyakinan dalam perilaku
sebagai makhluk hidup.
Pada awalnya,
interaksi manusia dan lingkungan lebih bersifat alami dan mencakup
komponen-komponen seperti, abiotik, biotik, dan sosial
budaya. Dengan berkembangnya peradaban manusia, kita dikelilingi
oleh berbagai bentuk artefak, peralata, kendaraan dan benda-benda lain hasil
karyanya. Benda-benda tersebut selanjutnya menjadi bagian dari lingkungan
secara keseluruhan. Bahkan di daerah perkotaan, lingkungan didominasi oleh
komponen-komponen kehidupan perkotaan seperti jalan, jembatan, gedung
bertingkat, permukiman, perkantoran, hotel, dan lain-lain. Lingkungan alam
telah diganti atau diubah secara besar-besaran oleh lingkungan buatan atau
binaan manusia.
Interaksi manusia dan
lingkungannya berlangsung melalui dua cara.
Pertama, manusia dipengaruhi oleh lingkungan. Kedua, manusia memiliki kemampuan untuk mengubah lingkungan.
Pertama, manusia dipengaruhi oleh lingkungan. Kedua, manusia memiliki kemampuan untuk mengubah lingkungan.
Karakteristik
interaksi manusia dan lingkungan berbeda antara satu daerah dengan daerah
lainnya, begitu juga satu masyarakat dengan masyarakat lainnya. Pada masyarakat
yang tradisional, ada kecenderungan lingkungan lebih dominan dalam memengaruhi
kehidupan manusia seperti halnya dalam lingkungan masyarakat pedesaan.
Sedangkan pada daerah yang masyarakatnya memiliki tingkat peradaban yang lebih
maju, manusia cenderung dominan sehingga lingkungannya telah banyak berubah
dari lingkungan alam menjadi
lingkungan binaan hasil karya manusia.
2.4 Identifikasi
Modifikasi Lingkungan Alam.
Aktivitas manusia
tidak hanya bergantung dan dipengaruhi oleh lingkungan alam, namun juga dapat
mempengaruhi dan menyebabkan modifikasi lingkungan alam, baik secara sengaja
maupun tidak sengaja. Dalam mata pelajaran ini, yang dimaksud dengan modifikasi
sebagai akibat aktivitas manusia bukanlah perubahan suhu atau punahnya
flora-fauna tertentu (Bradsawdan Weaver 1993:488-489). Melainkan semua
perubahan bentuk relief bumi atau permukaan tanah, baik sebagai akibat adanya
konstruksi maupun ada gejala atau kenampakan fisik lainnya.
Seiring dengan
berjalannya waktu, gajala atau kenampakan akibat aktivitas manusia tersebut
kadang-kadang tidak disadari kehadirannya. Lebih-lebih bila, tidak
terkonsentrasi pada situs-situs arkeologi. Oleh karena itu, gejala tersebut
menjadi pokok bahasan salah satu cabang dalam arkeologi.
Dalam hal ini,
pengetahuan, pengalaman , dan kecermatan sangat diperlukan untuk dapat
melakukan identifikasi segala kenampakan di permukaan tanah. Melalui pengamatan
yang seksama gejala atau kenampakan yang terbentuk sacara alamiah yang biasa
dipelajari dalam geomorfologi (Bradsaw dan Weaver 1993: 264)
Bekas aktivitas di
suatu lahan kadang tidak diketahui keberadaannya, karena telah tertimbun tanah
dalam kurun waktu lama atau tertutup tanaman yang rimbun dan tidak diketahui
oleh pengguna lahan yang baru. Dalam kasus seperti ini hasil interpretasi terhadap
foto udara membantu mengungkap keberadaan bekas aktivitas tersebut.
1. Indikasi
Modifikasi
Pengetahuan mengenai
indikasi-indikasi adanya modifikasi yang telah dilakukan manusia terhadap
lingkungan alamanya sangat membantu dalam melakukan survey arkeologis.
Dalam bidang ilmu
arkeologi, indikasi-indikasi tersebut merupakan bentuk-bentuk data arkeologo,
yang dapat dikategorikan sebagai artefak, fitur atau ekofak. Agar indikasi
tersebut dapat dijelaskan makna dan fungsinya, maka dilakukan beberapa kegiatan
yaitu :
a. Perekaman,
meliputi pengukuran, penggambaran, pemotrtan, dan pemetaan
b. Interpretasi
yang didasarkan pada hasil perekaman data, sumber tertulis, gambar, foto, dan
peta lama atau wawancara dengan penduduk sekitar.
2. Distribusi
Artefak
Selain contoh-contoh
yang telah dikemukakan, banyak situs arkeologi yang dapat diidentifikasi
keberadaannya melalui adanya konsentrasi temuan artefaktual di permukaan tanah,
seperti fragmen-fragmen gerabah atau serpih-serpih batu beserta calon-calon
beliung.
Sebagaimana
gejala-gejala lainnya, himpunan artefak di suatu lokasi dapat mengubah relief
permukaan tanah sebagai contoh keberadaan timbunan-timbunan tata batu pada
areal seluas kurang lebih 6.000 hektar, yang dikenal sebagai bengkel pembuatan
beliung persegi dan mata panah di wilayah gunung, kabupaten pacitan, Jawa
timur.
Dalam hal ini
aktivitas alam, seperti aliran tidak dipungkiri ikut andil sebagai factor
penyebab terjadinya transformasi atau akumulasi data arkeologi. Namun melalui
pengamatan terhadap serpihan-serpihan batu limbah produksi beliung dan artefak
yang ada, dapat dipastikan bahwa timbunan-tinbunan batu tersebut bukan sekedar
hasil aktivitas alam, melainkan bekas aktivitas komunitas manusia ynag pernah
tinggal di wilayah yang sekarang lebih dikenal sebagai wilayah yang tandus
tersebut.
3. Bangunan
Monumental
Keberadaan konstruksi
bangunan, baik masih dalam kondisi utuh maupun reruntuhan, paling mudah
diketahui kehadirannya bila dibandingkan dengan jenis data arkeologis lainnya.
Jenis data arkeologis ini, yang memang bentuknya sangat menonjol bila
dibandingkan dengan gejala lainnya. Benar-benar mengubah relief permukaan .
permukaan tanah yang terbentuk secara alamiah. Namun demikian, aktivitas alam
yang tidak henti-hentinya, seperti meletusnya gunung berapi, banjir-banjir
lahar, juga berpengaruh terhadap tersembunyi atau terkuaknya tinggalan
arkeologis berupa bangunan monumental.
Kalau sekarang kita
dapat menyaksikan kemegahan candi-candi di sekitar Yogaykarta dan Jawa Tengah ,
seperti candi Prambanan, dan Borobudur, sebenarnya tidak demikian halnya dengan
candi-candi tersebut puluhan tahun yang lalu.
2.5 Pencemaran
Lingkungan
Polusi atau pencemaran
lingkungan adalah masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat energi, dan
atau komponen lain ke dalam lingkungan, atau berubahnya tatanan lingkungan oleh
kegiatan manusia atau oleh proses alam sehingga kualitas lingkungan turun sampai
ke tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan menjadi kurang atau tidak
dapat berfungsi lagi sesuai dengan peruntukannya (Undang-undang Pokok
Pengelolaan Lingkungan Hidup No. 4 Tahun 1982).
Peristiwa pencemaran
lingkungan disebut polusi. Zat atau bahan yang dapat mengakibatkan
pencemaran disebut polutan. Syarat-syarat suatu zat disebut polutan
bila keberadaannya dapat menyebabkan kerugian terhadap makhluk hidup.
Contohnya, karbon dioksida dengan kadar 0,033% di udara berfaedah bagi tumbuhan,
tetapi bila lebih tinggi dari 0,033% dapat rnemberikan efek merusak.
Suatu zat dapat
disebut polutan apabila :
1. Jumlahnya
melebihi jumlah normal.
2. Berada
pada waktu yang tidak tepat
3. Berada
pada tempat yang tidak tepat
Sifat polutan adalah :
Merusak untuk
sementara, tetapi bila telah bereaksi dengan zat
lingkungan tidak merusak lagi . Merusak dalam jangka waktu lama.
Contohnya Pb tidak merusak bila konsentrasinya rendah. Akan tetapi
dalam jangka waktu yang lama, Pb dapat terakumulasi dalam tubuh
sampai tingkat yang merusak.
lingkungan tidak merusak lagi . Merusak dalam jangka waktu lama.
Contohnya Pb tidak merusak bila konsentrasinya rendah. Akan tetapi
dalam jangka waktu yang lama, Pb dapat terakumulasi dalam tubuh
sampai tingkat yang merusak.
a. Macam-macam
pencemaran Lingkungan
1. Menurut
tempat terjadinya
Menurut tempat
terjadinya, pencemaran dapat digolongkan menjadi empat, yaitu pencemaran udara,
air, dan tanah.
1.1.Pencemaran
udara
Pencemar udara dapat
berupa gas dan partikel. Contohnya sebagai berikut:
Gas HzS. Gas ini
bersifat racun, terdapat di kawasan gunung berapi, bisa juga dihasilkan dari
pembakaran minyak bumi dan batu bara. Gas CO dan COz. Karbon monoksida (CO)
tidak berwarna dan tidak berbau, bersifat racun, merupakan hash pembakaran yang
tidak sempurna dari bahan buangan mobil dan mesin letup. Gas COZ dalam udara
murni berjumlah 0,03%. Bila melebihi toleransi dapat meng- ganggu pernapasan.
Selain itu, gas C02 yang terlalu berlebihan di bumi dapat mengikat panas
matahari sehingga suhu bumi panas. Pemanasan global di bumi akibat C02 disebut
juga sebagai efek rumah kaca Partikel SOZ dan NO2. Kedua partikel ini bersama
dengan partikel cair membentuk embun, membentuk awan dekat tanah yang dapat
mengganggu pernapasan. Partikel padat, misalnya bakteri, jamur, virus, bulu,
dan tepung sari juga dapat mengganggu kesehatan . Batu bara yang mengandung
sulfur melalui pembakaran akan menghasilkan sulfur dioksida. Sulfur dioksida
bersama dengan udara serta oksigen dan sinar matahari dapat menghasilkan asam
sulfur. Asam ini membentuk kabut dan suatu saat akan jatuh sebagai hujan yang
disebut hujan asam. Hujan asam dapat menyebabkan gangguan pada manusia, hewan,
maupun tumbuhan. Misalnya gangguan pernapasan, perubahan morfologi pada daun,
batang, dan benih. Sumber polusi udara lain dapat berasal dari radiasi bahan
radioaktif, misalnya, nuklir. Setelah peledakan nuklir, materi radioaktif masuk
ke dalam atmosfer dan jatuh di bumi. materi radioaktif ini akan terakumulusi di
tanah, air, hewan, tumbuhan, dan juga pada manusia. Efek pencemaran nuklir
terhadap makhluk hidup, dalam taraf tertentu, dapat menyebabkan mutasi,
berbagai penyakit akibat kelainan gen, dan bahkan kematian Pencemaran udara
dinyatakan dengan ppm (part per million) yang
artinya jumlah cm3 polutan per m3
udara.
1.2. Pencemaran
air
Polusi air dapat
disebabkan oleh beberapa jenis pencemar sebagai berikut:
Pembuangan limbah
industri, sisa insektisida, dan pembuangan sampah domestik, misalnya,
sisa detergen mencemari air. Buangan industri seperti Pb, Hg, Zn, dan CO, dapat
terakumulasi dan bersifat racun. Sampah organik yang dibusukkan oleh bakteri
menyebabkan 02 di air berkurang sehingga mengganggu aktivitas kehidupan
organisme air .Fosfat hasil pembusukan bersama h03 dan pupuk pertanian
terakumulasi dan menyebabkan eutrofikasi, yaitu penimbunan mineral yang
menyebabkan pertumbuhan yang cepat pada alga (Blooming alga). Akibatnya,
tanaman di dalam air tidak dapat berfotosintesis karena sinar matahari terhalang.
Salah satu bahan pencemar di laut ada lah tumpahan minyak bumi, akibat
kecelakaan kapal tanker minyak yang sering terjadi. Banyak organisme akuatik
yang mati atau keracunan karenanya. (Untuk membersihkan kawasan tercemar
diperlukan koordinasi dari berbagai pihak dan dibutuhkan biaya yang mahal. Bila
terlambat penanggulangan-nya, kerugian manusia semakin banyak. Secara ekologis,
dapat mengganggu ekosistem laut. Bila terjadi pencemaran di air, maka terjadi
akumulasi zat pencemar pada tubuh organisme air. Akumulasi pencemar ini semakin
meningkat pada organisme pemangsa yang lebih besar.
1.3.Pencemaran
tanah
Pencemaran tanah
disebabkan oleh beberapa jenis pencemaran berikut ini :
Sampah-sampah plastik
yang sukar hancur, botol, karet sintesis,
pecahan kaca, dan kaleng.Detergen yang bersifat non bio degradable (secara alami sulit diuraikan)Zat kimia dari buangan pertanian, misalnya insektisida.
pecahan kaca, dan kaleng.Detergen yang bersifat non bio degradable (secara alami sulit diuraikan)Zat kimia dari buangan pertanian, misalnya insektisida.
1.4. Pencemaran suara
Polusi suara
disebabkan oleh suara bising kendaraan bermotor, kapal terbang, deru mesin pabrik,
radio/tape recorder yang berbunyi keras sehingga mengganggu pendengaran.
2. Menurut
macam bahan pencemar.
Macam bahan pencemar
adalah sebagai berikut:
2.1. Kimiawi
Berupa zat radio
aktif, logam (Hg, Pb, As, Cd, Cr dan Hi),
pupuk anorganik, pestisida, detergen dan minyak.
pupuk anorganik, pestisida, detergen dan minyak.
2.2. Biologi
Berupa mikroorganisme,
misalnya Escherichia coli, Entamoeba coli, dan Salmonella thyposa.
3. Menurut
tingkat pencemaran
Menurut WHO, tingkat
pencemaran didasarkan pada kadar zat pencemar dan waktu (lamanya) kontak.
Tingkat pencemaran dibedakan menjadi 3, yaitu sebagai berikut :
Pencemaran yang mulai
mengakibatkan iritasi (gangguan) ringan pada panca indra dan tubuh serta telah
menimbulkan kerusakan pada ekosistem lain. Misalnya gas buangan kendaraan
bermotor yang
menyebabkan mata pedih. Pencemaran yang sudah mengakibatkan reaksi pada faal tubuh dan menyebabkan sakit yang kronis. Misalnya pencemaran Hg (air raksa) di Minamata Jepang yang menyebabkan kanker dan lahirnya bayi cacat.
menyebabkan mata pedih. Pencemaran yang sudah mengakibatkan reaksi pada faal tubuh dan menyebabkan sakit yang kronis. Misalnya pencemaran Hg (air raksa) di Minamata Jepang yang menyebabkan kanker dan lahirnya bayi cacat.
Pencemaran yang kadar
zat-zat pencemarnya demikian besarnya sehingga menimbulkan gangguan dan
sakit atau kematian dalam lingkungan. Misalnya pencemaran nuklir.
b. Parameter
Pencemaran
Dengan mengetahui
beberapa parameter yang ads pads daerah/kawasan penelitian akan dapat diketahui
tingkat pencemaran atau apakah lingkungan itu sudah terkena pencemaran atau
belum. Paramaterparameter yang merupakan indikator terjadinya pencemaran adalah
sebagai berikut :
1. Parameter
kimia
Parameter kimia
meliputi C02, pH, alkalinitas, fosfor, dan logam-logam berat.
2. Parameter biokimia
Parameter biokimia
meliputi BOD (Biochemical Oxygen Demand), yaitu jumlah oksigen dalam air. Cars
pengukurannya adalah dengan menyimpan sampel air yang telah diketahui kandungan
oksigennya selama 5 hari. Kemudian kadar oksigennya diukur lagi. BOD digunakan
untuk mengukur banyaknya pencemar organik. Menurut menteri kesehatan, kandungan
oksigen dalam air minum atau BOD tidak boleh kurang dari 3 ppm.
3. Parameter
fisik
Parameter fisik
meliputi temperatur, warna, rasa, bau, kekeruhan, dan radioaktivitas.
4. Parameter
biologi
Parameter biologi
meliputi ada atau tidaknya mikroorganisme, misalnya, virus, bentos,
dan plankton.
c. Penanggulangan
Pencemaran
1. Penanggulangan
secara administratif
Penanggulangan secara
administratif terhadap pencemaran lingkungan merupakan tugas pemerintah, yaitu
dengan membuat peraturan-peraturan atau undang-undang. Beberapa peraturan yang
telah dikeluarkan, antara lain sebagai berikut :
a. Pabrik
tidak boleh menghasilkan produk (barang) yang dapat mencemari lingkungan.
Misalnya, pabrik pembat lemari es, AC dan sprayer tidak boleh menghasilkan
produk yang menggunakan gas CFC sehingga dapat menyebabkan penipisan dan
berlubangnya lapisan ozon di stratofer.
b. Industri
harus memiliki unit-unit pengolahan limbah (padat, cair, dan gas) sehingga
limbah yang dibuang ke lingkungansudah terbebas dari zat-zat yang membahayakan
lingkungan.
c. Pembuangan
sampah dari pabrik harus dilakukan ke tempat-tempat tertentu yang jauh dari
pemukiman.
d. Sebelum
dilakukan pembangunan pabrik atau proyek-proyek industri harus dilakukan
analisis mengenai dampak lingkungan (AM-DAL).
e. Pemerintah
mengeluarkan buku mutu lingkungan, artinya standar untuk menentukan mutu suatu
lingkungan. Untuk lingkungan air ditentukan baku mutu air , sedangkan untuk
lingkungan udara ditentukan baku mutu udara. Dalam buku mutua air, antara lain
tercantum batasan kadar bahan pencemar logam berat, misalnya fosfor dan
merkuri. Didalam buku mutu udara, antara lain tercantum batasan kadar bahan
pencemar, misalnya gas CO2 dan CO. Pemerintah akan memberikan sanksi kepada
pabrik yang menghasilkan limbah dengan bahan pencemar yang melebihi standar
baku mutu.
2. Penanggulangan
secara teknologis
Penanggulangan
pencemaran lingkungan secara teknologis, misalnya menggunakan peralatan untuk
mengolah sampah atau limbah. Di surabaya terdapat suatu tempat pembakaran akhir
sampah dengan suhu yang sangat tinggi sehingga tidak membuang asap. Tempat
tersebut dinamakan insenerator.
3. Penanggulangan
secara Edukatif
Penangkalan pencemaran
secara edukatif dilakukan melalui jalur pendidikan baik formal maupun
nonformal. Melalui pendidikan formal, disekolah dimasukkan pengetahuan tentang
lingkungan hidup tentang lingkungan hidup kedalam mata pelajaran yang terkait,
misalnya IPA dan Pendidikan agama. Melalui jalur pendidikan nonformal dilakukan
penyuluhan kepada masyarakat tentang pentingnya pelestarian lingkungan dan
pencegahan serta penanggulangan pencemaran lingkungan.
Dengan penyuluhan dan
pendidikan diharapkan dapat meningkatkan kesadaran baik secara individu maupun
secara berkelompok untuk memahami pentingnya kelestarian lingkungan.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Berdasarkan penjelasan
dan uraian tadi, kami dapat menyimpulkan sebagai berikut:
- Aktifitas manusia sangat berpengaru
terhadap lingkungan.
- Aktifitas manusia tidak hanya
tergantung dan dipengaruhi oleh lingkungan alam, namun juga dapat
mempengaruhi dan menyebabkan modifikasi lingkungan alam, baik secara
sengaja maupun tidak sengaja.
- Penyebab terjadinya pencemaran
lingkungan sebagian besar disebabkan oleh tangan manusia.
- Selain itu juga manusia juga
mempengaruhi lingkungan budaya, karena manuia adalah makhluk hidup yang
dapat dilihat dari dua sisi yaitu sebagai makhluk biologis dan makhluk
sosial.
- Keadaan lingkungan sangat besar
pengaruhnya terhadap kesehatan manusia. Di dalam lingkungan yang sesuai.
Penyebab penyakit dapat dipelihara dan ditularkan dari manusia ke manusia,
dari hewan ke hewan, atau dari manusia ke hewan.